Thursday, 3 January 2019

Libur Panjang Natal dan Tahun Baru Bikin Trafik Data XL Axiata Naik 83%

MAJALAH ICT – Jakarta. Libur panjang akhir tahun telah meningkatkan penggunaan layanan telekomunikasi dan data. PT XL Axiata Tbk (XL Axiata) mencatat kenaikan trafik penggunaan layanan data yang cukup signifikan. Terhitung mulai 23 Desember 2018 hingga 2 Januari 2019, secara rata-rata terjadi kenaikan trafik sekitar 83% dibandingkan hari-hari normal. Kenaikan trafik tertinggi ada pada tanggal 23 Desember 2018 sebesar 40% dan  1 Januari 2019 sebesar 83%. Dari jenis layanan, kenaikan trafik tertinggi ada pada akses ke layanan Instant Messaging, yaitu meningkat 540% dibandingkan hari-hari biasa.

Direktur Teknologi XL Axiata, Yessie D. Yosetya mengatakan, “Antusiasme masyarakat dalam merayakan libur panjang sangat terlihat beberapa tahun terakhir. Bahkan hampir tak ada beda dengan saat libur Lebaran. Jalan-jalan di Ibukota Jakarta menjadi lengang, sementara itu jalan menuju luar kota menjadi padat. Melalui sistem monitoring jaringan, kami melihat tingkat perpindahan pelanggan juga cukup tinggi. Trafik penggunaan layanan di banyak area di luar Jakarta meningkat signifikan, sebaliknya di Jakarta cenderung berkurang.”

Yessie menambahkan, berkat persiapan yang matang, jaringan XL Axiata sukses dan lancar dalam melayani pelanggan di semua wilayah, termasuk di area-area yang mengalami peningkatan trafik secara signifikan. Untuk memastikan jaringan benar-benar aman, maka XL Axiata meningkatkan kapasitas jaringan pada sekitar 1.500 site yang meng-cover area atau wilayah yang kemungkinan akan mengalami peningkatan trafik selama libur Natal dan tahun baru. Site-site tersebut antara lain berada di jalur utama transportasi darat menuju kota-kota tujuan liburan, juga di sekitar lokasi-lokasi wisata. Selain itu, berbagai upaya juga telah disiapkan, antara lain dengan penempatan sejumlah Mobile BTS di berbagai lokasi yang tersebar di Sumatra, Jakarta, pusat Kota Bandung serta di jalur tol trans Jawa.

Area yang mengalami kenaikan trafik tertinggi adalah Kabupaten Buleleng, Bali sebesar 211%, Kabupaten Deli Serdang 140% dan Kota Medan 115%. Saat Natal, 24-25 Desember 2018, trafik di wilayah yang banyak komunitas Nasrani seperti Medan mengalami peningkatan trafik sebesar 35%, Manado 55%, dan Kupang 37%.

Sementara itu, area-area lokasi wisata popular yang mengalami kenaikan trafik antara lain Pangandaran sebesar 91%, Bali 87%, Lombok 80%, dan Danau Toba 310%. Di Labuhan Bajo, trafik layanan data juga mengalami kenaikan sebesar 165%. Pada malam Natal, Dari jenis layanan, selain instant messanging, layanan lainnya yang mengalami kenaikan penggunaan secara signifikan dibandingkan hari-hari biasa adalah SNS (Social Networking Service) naik 125% dan Gaming naik 122%  Kenaikan trafik dari jenis-jenis layanan ini bisa terjadi karena aplikasi tersebut banyak digunakan untuk mengucapkan Natal dan Tahun baru.

Saat ini XL Axiata juga terus melakukan perluasan infrastruktur jaringan layanan data, sejalan dengan fokus perusahaan untuk terus mendorong perkembangan dan pertumbuhan penggunaan layanan data di masyarakat. Saat ini jumlah pelanggan XL Axiata mencapai sekitar 53,9 juta pelanggan, dengan jumlah pelanggan data mencapai sekitar 80% dari total pelanggan, yang didukung dengan infrastruktur jaringan sebanyak lebih dari 116 ribu BTS termasuk lebih dari 78 ribu BTS data (3G & 4G) di berbagai wilayah di Indonesia serta jaringan fiber optik sepanjang lebih dari 45 ribu km. Saat ini jangkauan layanan data (3G & 4G) XL Axiata juga telah melayani lebih dari 422 kota/kabupaten di Indonesia.



Facebook Didesak Perbaiki Cara Kumpulkan Data Pengguna, Jika Tidak maka Diancam Denda

MAJALAH ICT – Jakarta. Kantor Regulator Federal Jerman mengatakan kepada Facebook bahwa mereka harus memperbaiki cara mengumpulkan data pengguna atau berpotensi menghadapi denda, kata direktur Andreas Mundt dalam sebuah wawancara dengan Rheinische Post.

Regulator khawatir Facebook menyalahgunakan posisi dominannya, yang mencakup penggunaan aplikasi pihak ketiga untuk mengumpulkan informasi pribadi tentang pengguna tanpa persetujuan mereka.

Ini telah memberikan waktu kepada Facebook untuk menanggapi tuduhan ini dan menemukan cara untuk memperbaiki masalah ini, atau kantor akan melarangnya mengumpulkan data dengan cara ini, dan juga dapat memberikan sanksi kepada raksasa teknologi tersebut. Itu akan membuat keputusan awal tahun ini.

“Kami akan mengumumkan keputusan di Facebook pada awal 2019. Kami pikir Facebook mendominasi pasar yang relevan. Kami menyelidiki apakah … melalui cara data dikumpulkan dan digunakan, Facebook menyalahgunakan kekuatan pasarnya sehingga merugikan pelanggan, ”katanya.

Dia menambahkan Cartel Office mengejar Facebook karena, meskipun ini adalah layanan gratis, itu bukan organisasi “amal” karena pengguna membayar melalui data mereka, seringkali tanpa menyadarinya.

Facebook telah berargumen di masa lalu markas besarnya di Eropa berada di Irlandia, tetapi Kantor Kartel percaya bahwa karena perusahaan media sosial memiliki unit Jerman, undang-undang antimonopoli negara dapat berlaku untuk itu.

Kembali pada bulan September, Jerman menjabarkan langkah-langkah yang dirancang untuk mengekang meningkatnya dominasi raksasa internet dengan meningkatkan kekuatan regulator kompetitornya.

Sementara itu berita yang muncul awal pekan ini Austria akan terus maju dengan pajak pada perusahaan teknologi besar, termasuk Facebook, Google dan Amazon, dalam langkah yang mengikuti jejak Perancis.

“Wajar kalau raksasa internet di Eropa membayar pajak dengan jumlah yang tepat. Selain langkah di seluruh UE, kami juga akan bertindak di tingkat nasional. Kami akan memperkenalkan pajak digital di Austria, ”kata Kanselir Austria Sebastian Kurz.



BRTI Blokir Nomor Telepon Terindikasi Penipuan yang Ditempel di Mesin ATM

MAJALAH ICT – Jakarta. Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia memblokir nomor kartu SIM telepon seluler yang terindikasi disalahgunakan untuk penipuan dengan cara memanipulasi nomor customer service bank pada mesin anjungan tunai mandiri (ATM).

Respons cepat itu diambil BRTI setelah menerima aduan masyarakat dan melakukan pemantauan terhadap peredaran video yang viral dalam berbagai grup WA. Video itu berisi tentang manipulasi nomor customer service pada ATM salah satu Bank BUMN di wilayah Banyuwangi, Jawa Timur.

“Setelah beberapa hari terakhir beredar viral dalam berbagai grup WA, soal video indikasi penipuan itu, kami ingin cepat tanggap terhadap pengaduan masyarakat,” tegas Ketua BRTI Ismail di Jakarta, Kamis (03/01/2018).

Menurut Ismail yang juga menjabat Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika Kementerian Kominfo, langkah cepat diambil sebagai salah satu bentuk perlindungan terhadap masyarakat.

“BRTI telah melakukan koordinasi dengan bank cabang setempat serta dengan operator seluler. Dalam waktu kurang dari 24 jam sejak masuknya pengaduan, nomor yang diindikasikan melakukan penipuan tersebut telah diblokir oleh operator telekomunikasi yang bersangkutan,” jelas Ismail.

Ketua BRTI menjelaskan, dasar pemblokiran sesuai dengan Ketetapan (TAP) BRTI Nomor: 04 Tahun 2018 tentang Penanganan Pengaduan Penyalahgunaan Jasa Telekomunikasi, Ketetapan itu berlaku terhitung sejak tanggal 10 Desember 2018.

“Penyalahgunaan jasa telekomunikasi tersebut perlu ditangani dengan cepat dan terintegrasi sehingga kepercayaan masyarakat terhadap tujuan dan manfaat dari proses registrasi pelanggan jasa telekomunikasi terjaga dengan baik dengan tidak mengabaikan hak-hak pelanggan jasa telekomunikasi,” jelasnya.

TAP BRTI Nomor 4/2018 yang dikeluarkan  tanggal 30 November 2018 itu mengatur sanksi atas penyalahgunaan jasa telekomunikasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Untuk perlindungan pengguna jasa telekomunikasi, BRTI dan Kementerian Kominfo mengimbau kepada seluruh pengguna jasa yang mengetahui atau mengalami penipuan untuk segera melakukan pengaduan ke BRTI melalui helpdesk atau akun twitter @aduanBRTI. 

Pelanggan jasa telekomunikasi dapat melaporkan panggilan dan/atau pesan yang bersifat mengganggu dan/atau tidak dikehendaki (spam call and/or message), termasuk yang diindikasikan penipuan dalam berbagai bentuknya. Baik itu berupa permintaan untuk segera mengurus  pembayaran transaksi tertentu, transfer uang atau informasi pelanggan menjadi pemenang kuis/undian.



Aplikasi Emc Equation Untuk Pelaporan Digital Marketing Campaign

MAJALAH ICT – Jakarta. EMC Group meluncurkan aplikasi pelaporan digital marketing yang bernama EMC Equation, yaitu aplikasi yang memudahkan klien dalam melakukan pengecekan data laporan (report) untuk suatu campaign yang dapat diakses melalui ponsel. Aplikasi ini diharapkan dapat menjawab kebutuhan para klien yang mengalami kesulitan dalam melihat laporan campaign mereka. Dalam melakukan suatu campaign, suatu brand biasanya menggunakan platform yang berbeda-beda seperti Google, Instagram atau platform lainnya. Melalui EMC Equation, pelaporan digital marketing disajikan dalam single dashboard, all report in one apps. Aplikasi ini dapat diunduh melalui smartphone sistem Android pada Januari 2019 dan menyusul di sistem iOS. Klien akan diberikan akses untuk dapat menggunakan aplikasi ini.

President Director EMC Group, Eddy Yansen mengatakan “Dengan kekuatan kami sebagai Data-Driven Ad Tech Company, EMC Group terus berkomitmen untuk selalu menyediakan teknologi terkini yang dapat mendukung keberhasilan jalannya suatu campaign digital. Kami percaya dengan aplikasi ini akan memberikan lebih banyak manfaat dan meningkatkan layanan kepada klien kami, dengan tetap memperhatikan faktor kecepatan, ketepatan, keamanan dan kemudahan.”

Melalui aplikasi pelaporan digital marketing EMC Equation, laporan dapat dilihat secara tepat, cepat, real time dan dapat diakses dimana saja melalui ponsel. “Aplikasi ini kami targetkan untuk para managerial level dan execution level sehingga dapat mengambil keputusan lebih cepat dan tepat untuk mencapai hasil campaign sesuai target yang telah ditentukan.” lanjut Eddy Yansen.

Di dalam EMC Equation, report akan ditampilkan secara personalisasi untuk setiap klien secara real time “Di aplikasi EMC Equation, kami ubah report yang sebelumnya manual atau melalui excel menjadi report yang berbasis aplikasi sehingga dapat memudahkan klien dalam mengakses dan memonitoring campaign dalam sebuah report yang dapat diakses daily dan real time melalui smartphone.” tambah Eddy Yansen.

Aplikasi EMC Equation saat ini memiliki fitur untuk dapat melihat weekly dan monthly summary report serta audience information performance dari berbagai platform marketing populer seperti Google, Facebook, Linkedin, Ad Network lainnya. Dengan hadirnya EMC Equation, EMC Group berharap dapat terus menjadi perusahaan yang mengedepankan kebutuhan klien melalui data dan teknologi.

“Untuk aplikasi EMC Equation dalam tahun pertama kami targetkan sudah dapat diunduh dan dipakai secara konsisten oleh 30% klien kami dalam melakukan monitoring dari awal sampai dengan campaign berakhir.” tutup Eddy Yansen.



MASTEL dan Asosiasi Tegaskan Pentingnya Kuasai Data untuk Indonesia 4.0, Tolak Revisi PP No.82/2012

MAJALAH ICT – Jakarta. Dengan masih berlanjutnya upaya Ditjen Aplikasi Informatika (APTIKA) Kementerian Kominfo dalam mempertahankan konsep perubahan PP 82 tahun 2012 di tengah keberatan para pihak, antara lain mengadakan sosialisasi perubahan di Sari Pacific pada tanggal 17 Desember 2018 dan pada berbagai Seminar lainnya, MASTEL bersama Asosiasi yang terlibat secara langsung di dalam ekosistem Internet, Data Storage dan IoT menyampaikan pernyataan sikap bersama agar Pemerintah memperhatikan pentingnya menguasai data untuk Indonesia 4.0.

Sebagaimana diketahui, Presiden RI telah menyampaikan bahwa Indonesia harus bersiap menyongsong era Revolusi Industri 4.0 dan berupaya untuk mengambil peluang sebanyak mungkin. Menteri Perindustrian RI telah mencanangkan program nasional “Making Indonesia 4.0”. Dalam rangka menindak-lanjuti arahan Presiden tersebut di atas, hal mendasar perlu dipahami oleh para penentu kebijakan, bahwa Revolusi Industri 4.0 atau Industri 4.0 terjadi karena terhubungnya semua hal melalui internet of thing & internet of everything (IoT/IoE), yang di dalamnya mengalir Big Data; yang kemudian membuka ruang untuk penerapan Artificial Intelligence (AI), beragam Sensors & Actuators, 3D printing, virtual/augmented reality (VR/AR), dsb.

Data adalah aliran darah di dalam ekosistem industri 4.0, maka Big Data adalah sumber daya yang sangat berharga di dalam era ekonomi digital Indonesia ke depan. Oleh karena itu, Negara perlu bersikap bahwa Data yang mengalir di dalam jaringan internet Indonesia adalah sumber daya nasional yang harus dikuasai oleh negara Republik Indonesia. Dengan memiliki Big Data, Indonesia dapat melakukan data analytic antara lain market-review, product-review, consumer behavior, mapping mobilitas, mapping daya beli, sebaran geografis/gender/komunitas umur/kota tujuan, pemetaan potensi/minat, dan beragam analisa untuk kepentingan negara. Semua data (rekam jejak kegiatan online) adalah sangat penting bagi pembangunan Indonesia ke depan. Maka dari gambaran ini, seharusnya dapat dipahami bahwa Data adalah penggerak industri 4.0 Indonesia.

Membiarkan Big Data Indonesia dikuasai oleh negara lain akan menjadi sebab lepasnya sumber daya nasional yang sangat penting. Indonesia akan tidak memiliki daya untuk menuju Indonesia 4.0. Hal ini tentu akan sangat tidak sejalan dengan arahan Presiden RI dan akan sangat merugikan negara RI dalam semua aspek Ipoleksosbud Hankam dan aspek Kedaulatan/Kemandirian Indonesia.

De facto saat ini telah ada beberapa platform global yang menghimpun data dari wilayah Republik Indonesia dan telah mendapatkan keuntungan ekonomi dari wilayah NKRI. Tentu akan cukup berat tantangan untuk dapat menguasai data-data yang terlanjur berada di luar Indonesia. Namun demikian, mengingat masa depan industri dan ekonomi Indonesia akan sangat bergantung kepada adanya Big Data Indonesia, maka segala daya upaya harus terus dicurahkan untuk mendapatkannya; bukan justru melepas data yang lebih besar lagi dengan alasan tidak mampu atau alasan apapun.

Ketua Umum MASTEL Kristiono mengatakan “data menjadi sumber daya strategis nasional yang harus tetap kita kuasai dan tersimpan di wilayah yuridiksi Indonesia”. “Oleh karena itu MASTEL meminta kepada pemerintah agar menghilangkan pasal tentang klasifikasi data dalam revisi PP 82/2012 dan mewajibkan semua data tersimpan di wilayah Indonesia serta lebih menguatkan posisi Indonesia dalam penguasaan atas data sehingga mampu mengelolanya untuk kepentingan nasional sebesar-besarnya”, tegas Ketua Umum MASTEL.

Senada dengan MASTEL, Asosiasi Indonesia Data Center Provider Organizaton (IDPRO), Asosiasi Cloud Computing Indonesia (ACCI), Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Federasi Teknologi Informasi Indonesia (FTII), Asosiasi Peranti Lunak Telematika Indonesia (ASPILUKI) dan Asosiasi IoT Indonesia (ASIOTI) turut memberikan pernyataan sikap mengenai pentingnya penguasaan data di era Industri 4.0.

“Kami belum melihat ada respon yang positif terhadap keberatan keberatan dan penolakan kami atas rencana revisi PP 82. Kami sudah berupaya menyampaikan pemikiran pemikiran kami terhadap potensi masalah yang ditimbulkan oleh perubahan tersebut dalam berbagai kesempatan, namun kami belum mendapatkan respon yang diharapkan,” ungkap Sekjen IDPRO Teddy Sukardi.

Menurutnya, konsep klasifikasi data yang dipertahankan oleh Dirjen APTIKA justru membuktikan ketidaksadaran Dirjen atas pentingnya Kedaulatan data. “Ini sangat memalukan, karena APTIKA sebagai pembina sektor TIK harusnya lebih paham tentang urgensi data, dengan begini artinya gagal menjalankan tugasnya,” tukasnya.

Sementara itu Sekjen FTII Irwin Day menegaskan dengan mempertimbangkan kondisi yang ada, FTII tetap pada posisi keberatan dengan segala upaya untuk memberi celah tersimpannya data layanan publik di luar negeri di mana pemerintah tidak akan mampu melindunginya sebagaimana seharusnya. “Kalau tetep goal revisi-nya hanya menyenangkan asing dan memperlemah bangsa, kami akan lakukan upaya hukum. Ini tak bicara lagi soal kerugian usaha tapi harga diri anak bangsa yang tercabik-cabik dengan pola ala VOC menjajah negeri ini ratusan tahun,” tegasnya.

Ketua Umum ACCI Alex Budiyanto menyampaikan, “Sepertinya apa yang kami sampaikan selama ini diberbagai kesempatan, mengenai dampak negatif dari rencana perubahan PP PSTE ini hanya dianggap angin lalu saja, pada diskusi terakhir kemarin (17 Desember 2018) tidak ada perubahan apapun atas permintaan yang kami suarakan bersama”, keluhnya.

Ketua Umum Aspiluki Djarot Subiantoro menilai pihak yang menyusun draft revisi PP PSTE tak menimbang aturan eksisting seperti Permenkominfo No 20 tahun 2016 tentang perlindungan data pribadi dalam sistem elektronik yang diundangkan sejak 1 Desember 2016.

“ASPILUKI mendukung keberadaan PP 82/2012 dan menolak terhadap draft revisi yang diajukan. Klasifikasi data pasti berpotensi menimbulkan permasalahan yang lebih kompleks dalam implementasinya ataupun aplikasinya, sementara penempatan pusat data di Indonesia selain memantapkan kedaulatan atas data, dapat mendorong dan menumbuhkembangkan ekosistem industri layanan TIK berbasis software lokal di Indonesia, menimbulkan inspirasi dan mendorong inovasi yang sangat diperlukan dalam menghadapi disrupsi digital di masa kini dan masa depan”, ungkap Ketua Umum ASPILUKI. “Keberpihakan pemerintah diperlukan dan akan dirasakan”, tutup Djarot.

Dalam rapat yang diselenggarakan MASTEL pada tanggal 20 Desember 2018 lalu, Pemilik Data Center Tier IV pertama di Indonesia (PT. DCI Indonesia), Toto Sugiri ikut membagikan pendapat yang tetap mendukung keberadaan PP 82/2012 untuk menunjang pertumbuhan industri dan ekosistem TIK di Indonesia, bahwa “Kami mendukung PP 82/2012 karena Data Center menjadi anchor bagi pertumbuhan industri turunan dan SDM di Indonesia, disamping itu, kita sebagai pengelola Data Center sudah membuktikan kesiapan secara infrastruktur maupun proses untuk menjawab kebutuhan taraf internasional”. Toto Sugiri pada tahun 2015 telah menunjukkan fasilitas, operasi dan profil klien kepada Menkominfo.

 



Wednesday, 2 January 2019

Pasangan Sesama Introvert itu Bagaimana, ya?

Orang bilang, biasanya pasangan itu suka kebalikan. Pihak 1-nya pendiam, pihak 2-nya banyak cakap. Pihak 1-nya betah di rumah, pihak 2-nya pengin di luar terus. Pihak 1-nya banyak pertimbangan, pihak 2-nya cenderung spontan. Demikianlah gambaran kasar pasangan introvert dan ekstrovert. Orang bilang, opposites do attract. Dengan kata lain, yang berkebalikan biasanya cocok. Namun banyak juga […]

from Rosediana Diary http://bit.ly/2SyCB8V
via IFTTT

iPhone Dominasi Penjualan Ponsel Premium di 2018

MAJALAH ICT – Jakarta. Di tengah rumor bahwa iPhone baru Apple menderita penjualan yang lamban, sebuah laporan baru mengklaim bahwa smartphone yang menjalankan iOS mendominasi pasar smartphone premium pada kuartal ketiga 2018, mengalahkan penawaran Galaxy S dan Note terbaru Samsung.

Monitor Pasar Counterpoint Research baru-baru ini mengungkapkan bahwa data pasar yang dikumpulkan menunjukkan iPhone Apple sebagai handset yang paling laris di segmen premium. Segmen ini, yang terdiri dari perangkat bernilai $ 400 atau lebih tinggi, mewakili 22 persen pasar ponsel pintar global.

Menurut laporan itu, iPhone baru Apple menangkap 47 persen dari segmen pasar premium pada kuartal ketiga, yang dua kali lipat dari 22 persen pangsa Samsung. Huawei berada di urutan ketiga dengan 12 persen, kemudian merek-merek Cina lainnya mengikuti. Vivo dan Oppo masing-masing mendapat 5 persen, sementara Xiaomi memperoleh 3 persen.

Melihat segmen harga tertentu, Apple tidak benar-benar mengamankan posisi teratas di segmen $ 400 hingga $ 600, yang menyumbang 46 persen dari pasar smartphone premium. Apple hanya memiliki 21 persen saham, sedangkan Samsung mengamankan kepemimpinannya dengan 25 persen saham. Huawei tertinggal di belakang keduanya dengan 17 persen.

Namun, Apple pasti mengalahkan Samsung di braket $ 600 hingga $ 800 karena memiliki 61 persen pengiriman dibandingkan dengan 21 persen yang terakhir. Dominasi raksasa Cupertino di pasar smartphone premium sangat terasa di kategori $ 800 atau lebih dengan pangsa 79 persennya.

Berdasarkan data yang dikumpulkan, iPhone Apple melakukan yang terbaik di wilayah berikut: Amerika Utara, Timur Tengah dan Afrika, Eropa Barat, Cina, dan Asia-Pasifik.

Sementara itu, Apple hanya menempati urutan kedua di Amerika Latin, Eropa Tengah dan Eropa Timur. Raksasa teknologi itu hanya berada di urutan ketiga di India, di belakang OnePlus dan Samsung, seperti yang ditunjukkan oleh AppleInsider.

Ada 40 produsen yang bersaing di pasar smartphone premium saat ini. Namun, segmen ini sebagian besar didominasi oleh beberapa perusahaan termasuk Apple dan Samsung. Faktanya, lima pemain terbesar di segmen ini menyumbang sekitar 89 persen dari pengiriman.

Penting untuk dicatat bahwa Apple telah memutuskan untuk tidak lagi mengungkapkan data pengiriman unit untuk produk-produknya. CFO Luca Maestri membenarkan langkah ini dengan mengatakan, “Jumlah unit yang terjual dalam periode 90 hari tidak selalu mewakili kekuatan bisnis yang mendasarinya.”