Monday, 4 January 2021

Ini Tiga Praktik Terbaik Teknis Pengoperasian Ekosistem Hybrid IT yang Efektif

MAJALAH ICT – Jakarta. Dewasa ini, ekosistem hybrid IT menjadi norma baru seiring investasi strategis para CIO yang memindahkan sebagian besar aplikasi, infrastruktur, serta sistem perusahaan ke sistem awan (cloud), dan mempertahankan sisanya di lingkungan internal perusahaan (on-premise). IDC memprediksi lebih dari 90% perusahaan di Asia Pasifik akan memiliki infrastruktur hybrid IT pada 2021. Ekosistem ini dapat menjadi fondasi kokoh untuk mendorong capaian bisnis yang diinginkan dengan memungkinkan perusahaan memaksimalkan nilai aset yang ada.

Meski dirancang dengan interoperabilitas, adopsi teknologi baru dari berbagai vendor oleh perusahaan dapat menjadikan arsitektur TI lebih kompleks dan rentan terhadap masalah keamanan. Tiap vendor TI yang ditambahkan akan memperumit ekosistem dan meningkatkan potensi konflik, misalnya akibat perbedaan perangkat pengujian. Keberhasilan pengoperasian dan pemeliharaan ekosistem hybrid IT akan dipengaruhi oleh seberapa efektif departemen TI mengelola penambahan vendor baru.

Para CIO perlu mengadaptasi strategi manajemen TI sesuai ekosistemnya melalui standardisasi perangkat dan protokol untuk mengatasi tumpang tindih kapabilitas, serta penyusunan peta jalan menuju sukses. Praktik-praktik terbaik pengelolaan ekosistem teknis berikut ini akan turut memastikan infrastruktur hybrid yang digunakan perusahaan membuatnya dapat bertransisi ke sistem awan dan mencapai target bisnis.

Kendalikan kompleksitas arsitektur untuk maksimalkan nilai kelincahan dan fleksibilitas hybrid IT

Jika tidak dikelola sejak awal, kompleksitas arsitektur, kolokasi server, dan interaksi antara solusi awan dan nonawan dapat mengurangi fleksibilitas dan kelincahan. Perubahan akan lebih sering terjadi di ekosistem hybrid IT karena mayoritas komponen awan belum mencapai kematangan. Pastikan arsitektur TI yang digunakan cukup fleksibel untuk mengaktifkan dan menonaktifkan solusi secara cepat, serta pantau kemacetan yang mungkin timbul akibat banyaknya vendor yang dilibatkan maupun konflik antara solusi awan dan nonawan. Mengendalikan versi produk adalah cara utama untuk memastikan ekosistem tersebut mampu menghadapi perubahan.

Untuk menentukan seberapa adaptif suatu ekosistem hybrid, kaji tingkat interoperabilitas atau besar usaha yang diperlukan untuk mengintegrasi berbagai vendor dan produk yang bebeda. Agar perusahaan tetap kompetitif, pindahkan ke awan kapabilitas yang tidak memerlukan integrasi ketat dan akan sering berubah seiring munculnya solusi yang lebih baik. Di sisi lain, pertahankan solusi yang dijalankan secara internal dan dapat dijadikan fondasi untuk mengoperasikan solusi awan. Contohnya, pada solusi ERP di mana integrasi ketat diperlukan, pengubahsuaian berhasil memenuhi kebutuhan unik, atau tidak ada solusi Software as a Service (SaaS) yang sepadan untuk menggantikan fungsinya.

Ciptakan solusi mulus melalui tata kelola, proses, dan perangkat integrasi

Arsitektur berorientasi layanan, arsitektur layanan berbasis awan, dan kerangka integrasi baru mempermudah dibangunnya ekosistem hybrid IT. Namun, jika prosesnya terpisah antara beberapa produk, kelengkapan atau kebenaran proses yang dijalankan di seluruh produk biasanya tidak dapat dipastikan. Selain itu, standar perangkat integrasi yang ada saat ini mungkin tidak lagi memadai ketika portofolio diperluas hingga mencakup model multiawan. Oleh karena itu, integrasi proses harus dikembangkan sebagai disiplin ilmu dalam departemen TI. Center of Excellence (COE) integrasi juga mungkin dibutuhkan untuk membantu menjembatani jurang bahasa antarvendor dan membangun proses bersama jika diperlukan. Ketika portofolio aplikasi tumbuh menjadi lebih beragam dan merata, manfaatkan kapabilitas perangkat baru untuk mempermulus integrasi. Untuk memenuhi kebutuhan ini, mungkin perlu ditambahkan perangkat modern integration platform as a service (iPaas). Selanjutnya, tata kelola juga perlu diperluas untuk menjawab pertanyaan terkait pilihan mekanisme integrasi yang digunakan, kepemilikan data dan proses, serta integritas integrasi.

Terapkan proses dan kontrol untuk membantu menjaga keamanan ekosistem TI

Keamanan aplikasi dan infrastruktur adalah dua bidang penting yang harus dikelola departemen TI secara hati-hati. Riset yang dilakukan Cowen mengindikasikan bahwa profesional TI senior menganggap keamanan, khususnya pada sistem awan, sebagai prioritas utama sejak pandemi COVID-19. Pencampuran antara ekosistem awan dan internal menambah jumlah dan jenis titik kontrol yang harus dikelola. Beberapa jenis proses dan protokol keamanan mungkin tidak kompatibel satu sama lain, dan keamanan yang ketat pada salah satu komponen bisa jadi sia-sia karena lemahnya keamanan di komponen lain. Selain itu, teknologi unifikasi seperti single sign-on di satu sisi mempermudah akses ke aplikasi, tapi di sisi lain mungkin tidak menghilangkan konflik yang timbul dari rancangan keamanan masing-masing komponen.

Agar keamanan portofolio hybrid terjaga, proses keamanan dan kontrol lintas vendor yang kuat untuk mengurangi eksposur di tiap titik interaksi vendor perlu diterapkan pada tingkat master. Namun, validasi efektivitas kontrol keamanan di seluruh portofolio mungkin sulit dilakukan karena kebanyakan vendor sistem awan keberatan jika pelanggan menguji keamanan produk atau keamanan keseluruhan ekosistem mereka. Sejumlah kebijakan dan kontrol hukum juga dapat membatasi apa saja yang bisa diuji di ekosistem vendor.

Namun demikian, manfaat ekosistem hybrid IT jauh melampaui tantangan yang muncul akibat kompleksitasnya. Jadi, sikap proaktif dalam mengelola faktor-faktor yang berdampak langsung terhadap efektivitas hybrid IT penting agar tantangan saat berpindah ke sistem awan dapat teratasi.

Penulis: Andrew Seow, Regional GM for Southeast Asia and Greater China, Rimini Street, Inc.

 



Sunday, 3 January 2021

Kemenperin Telurkan Startup Penghasil Solusi Teknologi Saat Pandemi

MAJALAH ICT – Jakarta. Kementerian Perindustrian terus mendorong para pemenang kompetisi Startup4Industry 2020 dapat memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional, khususnya sektor industri. Salah satu pelaku usaha rintisan yang meraih penghargaan ajang tersebut, yakni PT DycodeX Teknologi Nusantara.

“PT DycodeX Teknologi Nusantara bagian dari lima startup Indonesia terbaik jebolan Startup4Industry 2020, dengan karya yang dinamakan HeatraX,” kata Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Gati Wibawaningsih di Jakarta.

HeatraX merupakan solusi yang diciptakan oleh PT DycodeX Teknologi Nusantara untuk menyelesaikan masalah-masalah besar yang ada saat masa pandemi Covid-19, dengan menggunakan teknologi modern. Adapun empat aspek yang menjadi penilaian untuk menentukan pemenang Startup4Industry 2020, yaitu peluang bisnis, teknis, kelayakan implementasi, dan dampak inovasi.

“Sejauh ini masih banyak penerapan dan enforcement protokol kesehatan yang dilakukan secara manual oleh tenaga manusia dengan alat bantu thermal gun yang dinilai kurang efektif dan berpotensi meningkatkan angka penyebaran virus, maka solusi sistem screening yang automated, contactless, dan smart sangat diperlukan dalam menangani angka penyebaran Covid-19,” papar Gati.

Fitur andalan HeatraX adalah contactless thermal screening yang ditenagai oleh on-device Artificial Intelligence (AI). Lalu terdapat peringatan real-time pada device, jika terukur suhu tubuh objek di atas normal atau objek tidak menggunakan masker. On-device AI juga memungkinkan pengenalan objek berbasis wajah.

“HeatraX tidak hanya berupa perangkat, melainkan platform yang diperkaya dengan web-based dashboard dan mobile app, dan memungkinkan berintegrasi dengan sistem 3rd party,” jelas CEO PT DycodeX Teknologi Nusantara, Andri Yadi.

HeatraX memiliki potensi pasar yang luas mengingat seluruh bangunan wajib menjalankan protokol kesehatan. “Perlu diingat bahwa HeatraX bukan hanya tentang thermal screening, namun dalam jangka panjangnya, platform ini akan fokus ke analytics: track and trace, engagement berbasis wajah dan dapat di-customize untuk berbagai use case lain yang berbasis visual intelligence,” terangnya.

Mengusung tema “Indonesia Percaya Diri dengan Teknologi Dalam Negeri”, Gati menambahkan, penyelenggaraan kompetisi Startup4industry 2020 diharapkan memberi andil dalam menekan dampak pandemi di sektor industri, melalui upaya pemanfaatan teknologi canggih. “Untuk bisa unggul dalam berkompetisi, inovasi dan teknologi menjadi investasi penting yang dapat dihadirkan oleh industri, salah satunya dari peran startup,” tutur Gati.

Gati melanjutkan, kegiatan Startup4Industry juga mendukung rebooting ekonomi melalui sektor IKM dalam momentum pandemi. Pasalnya, saat ini, startup industry didominasi oleh pelaku yang ada di tahap early stage dengan skala Usaha Menengah dan Kecil (UMK). “Ini sejalan dengan UU Cipta Kerja yang didesain untuk memberi kemudahan bagi pelaku usaha dengan skala UMKM, sehingga mereka semakin terbantu,” imbuhnya.

 



Meski Gampang Diretas, Kominfo Tegaskan Aplikasi PeduliLindungi Aman untuk Program Vaksinasi COVID-19

MAJALAH ICT – Jakarta. Kementerian Komunikasi dan Informatika menegaskan Aplikasi PeduliLindungi aman untuk digunakan. Bahkan, aplikasi yang berbasis website maupun Android dan iOS juga digunakan untuk mendukung pelaksanaan Program Vaksinasi COVID-19.

“Aplikasi PeduliLindungi sendiri telah ditetapkan dalam Keputusan Menteri Kominfo No. 171 tahun 2020 sebagai dasar penyelenggaraan tracing, tracking dan fencing melalui infrastruktur, sistem dan aplikasi telekomunikasi untuk mendukung surveilans kesehatan,” tegas Juru Bicara Kementerian Kominfo Dedy Permadi di Jakarta, Minggu (03/01/2021).

Jubir Kementerian Kominfo menyatakan isu yang beredar di masyarakat mengenai aplikasi PeduliLindungi rawan phising dan malware dan bisa mencuri data pribadi adalah tidak benar. 

Menurutnya, aplikasi itu dijamin aman dengan Keputusan Menteri Kominfo No 171 Tahun 2020 yang melengkapi keputusan sebelumnya, yakni Keputusan Menteri Kominfo No. 159 Tahun 2020 tentang Upaya Penanganan Corona Virus Disease (COVID-19) melalui Dukungan Pos dan Informatika.

“Keputusan Menteri tersebut bersifat khusus dan juga untuk memberikan jaminan perlindungan data pribadi yang sesuai dengan perundang-undangan. Oleh karena itu, Kementerian Kominfo mengingatkan masyarakat agar tidak percaya dengan isu yang beredar dan mengajak untuk menginstal PeduliLindungi,” tandasnya menanggapi hoaks yang menyatakan aplikasi PeduliLindungi rawan phising dan malware.

Jubir Dedy Permadi menegaskan kembali informasi hoaks yang beredar tentang aplikasi PeduliLindungi tidak benar. Menurutnya aplikasi tersebut dapat diunduh secara resmi melalui App Store dan Play Store secara resmi.

“Aplikasi PeduliLindungi telah dimanfaatkan pemerintah sejak awal pandemi di Indonesia. Aplikasi itu telah disempurnakan fiturnya untuk mendukung memutus mata rantai penyebaran COVID-19,” tuturnya.

Saat ini aplikasi PeduliLindungi digunakan Pemerintah untuk melaksanakan Program Vaksinasi COVID-19 yang tahap pertama berlangsung bulan Januari hingga April 2021 nanti.

“Untuk itu, Kominfo mengimbau masyarakat tidak ragu untuk menginstal PeduliLindungi, karena provider menggunakan sistem keamanan berlapis,” ujar Jubir Kementerian Kominfo.

Dalam beberapa waktu terakhir, beredar informasi melalui pesan berantai dalam aplikasi pesan instan WhatsApp yang menyatakan Aplikasi PeduliLindungi rawan phising dan malware. Padahal, Tim AIS Kementerian Kominfo telah mengidentifikasi pesan berantai itu sebagai hoaks.

“Oleh karena itu, Kementerian Kominfo mendorong masyarakat untuk terus menggunakan aplikasi PeduliLindungi, khususnya dalam menyukseskan Program Vaksinasi COVID-19 sebagai upaya bersama mengakhiri pandemi,” tutur Jubir Dedy Permadi.

Sebelumnya, pada April 2020 juga pernah beredar pesan berantai yang menyebutkan aplikasi PeduliLindungi tidak aman, rawan phising dan malware, karena belum tersedia di layanan aplikasi resmi App Store dan Play Store.

 



Saturday, 2 January 2021

Amartha Akan Salurkan Pendanaan Rp 2,6 T untuk UMK Desa di 2021

MAJALAH ICT – Jakarta. PT Amartha Mikro Fintek atau Amartha, pionir fintech peer to peer lending atau pendanaan yang berfokus pada pemberdayaan perempuan pengusaha mikro di desa menargetkan penyaluran sebesar Rp 2,6 Triliun pada 2021. Permodalan tersebut akan disalurkan kepada lebih dari 650 ribu perempuan pengusaha Mikro, Kecil dan Menengah di Jawa, Sulawesi dan Sumatera.

Andi Taufan Garuda Putra, Founder dan CEO Amartha mengatakan, “Pertumbuhan bisnis Amartha sangat baik, hingga Desember 2020 penyaluran pendanaan meningkat 21,22% di angka Rp 2,92 Triliun. Pertumbuhan jumlah pelaku UMKM yang mendapatkan pendanaan juga meningkat 11,65% menjadi 588.283 Mitra”. Secara makro aktivitas UMKM mulai pulih kembali. Di 2021, Amartha sangat optimis seiring dengan pemulihan ekonomi, kualitas penyaluran pendanaan juga akan semakin membaik.

Selain itu, beberapa strategi telah disiapkan untuk dapat melayani 1 Juta Mitra (secara akumulasi) di tahun depan, salah satunya dengan membangun ekosistem digital untuk meningkatkan inklusi digital UMKM di desa. “Kami akan memperluas produk dan meluncurkan program untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di desa, salah satunya melalui program smartphone masuk desa”, tambah Andi Taufan.

Amartha berupaya untuk meningkatkan inklusi keuangan digital melalui penciptaan produk yang sesuai dengan kebutuhan sektor UMKM informal dengan menerapkan framework strategi inklusi keuangan yang terdiri dari tiga pilar, yaitu pertama menciptakan produk keuangan yang sederhana dan mudah dimengerti oleh mereka. Kedua adalah mengurangi biaya transaksi dengan menghadirkan layanan keuangan digital di tempat tinggal pengguna, termasuk dengan cara difasilitasi agen di lapangan misalnya. Ketiga, mengurangi barrier of access yang tidak hanya dipengaruhi oleh faktor geografis tetapi juga faktor pengetahuan dan infrastruktur digital.

Hadi Wenas, Chief Commercial Officer Amartha, menambahkan “Smartphone masuk desa adalah langkah penting berikutnya setelah selama ini Amartha berhasil mengakselerasi upaya peningkatan kesejahteraan pelaku UMKM perempuan di desa lewat modal kerja. #SaatnyaPerempuan untuk lebih sejahtera dengan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan pendapatan, mengurangi pengeluaran, serta adanya proteksi jiwa dan kesehatan”.

Dengan memberikan akses pada teknologi dan membangun ekosistem digital memberikan peluang untuk meningkatkan kesejahteraan perempuan melalui partisipasi ekonomi, pengembangan sosial, dan memfasilitasi pembuatan keputusan yang terinformasi. Bagi Mitra Amartha yang sudah menggunakan teknologi, terdapat peluang pemanfaatan teknologi untuk mendukung pekerjaan, ruang ekspresi, dan menyediakan akses informasi.

 



Mantul, E-Commerce Indonesia Menempati Posisi Pertama di Asia Tenggara

MAJALAH ICT – Jakarta. Tim riset Bank DBS Indonesia melakukan survei kepada lebih dari 500 responden di Pulau Jawa, termasuk Jakarta dan sebagian kecil di luar Pulau Jawa dengan judul “Indonesia Consumption Basket” beberapa waktu lalu dan menemukan bahwa pelanggan e-commerce di Indonesia naik menjadi 66% setelah pandemi yang merupakan dampak dari pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Bahkan sejak tahun 2019 lalu, sebanyak 90% pengguna internet Indonesia telah melakukan pembelian di e-commerce. Fakta ini menjadikan Indonesia menempati peringkat satu di Asia Tenggara sebagai pengguna e-commerce terbesar.

Masih berdasarkan hasil survei yang sama, kegiatan belanja online naik sebanyak 14%, sedangkan belanja di pusat perbelanjaan turun secara signifikan mencapai 24% semenjak pandemi Covid-19 menyerang Indonesia. Sebelum pandemi, sebanyak 72% responden survei memilih belanja di toko dibandingkan online. Berdasarkan laporan dari Redseer, Gross Marketing Value (GMV) e-commerce Indonesia meningkat di kuartal kedua tahun ini, mencapai USD10 miliar dikarenakan dorongan masyarakat yang berganti ke platform daring untuk belanja produk kebutuhan sehari-hari, seperti kesehatan dan perawatan, bahan makanan, dan Fast-Moving Consumer Goods (FMCG). Pembelian kebutuhan sehari-hari secara online juga mengakibatkan kegiatan belanja ke pasar tradisional menurun drastis menjadi 30% dari sebelumnya sebanyak 52%.

Beberapa responden yang memilih berbelanja di situs web perusahaan dan media sosial naik tipis selama pandemi, masing-masing menjadi 6% dan 3%. Dengan demikian, perusahaan kini tidak dapat mengabaikan persaingan yang datang dari online. Survei yang dilakukan Bank DBS Indonesia menyarankan agar perusahaan mempercepat strategi omni-channel atau memulai kemitraan dengan platform e-commerce yang mapan.

Selain menguntungkan para perusahaan besar yang berjualan melalui e-commerce, minat tinggi berbelanja online juga mempengaruhi pertumbuhan UMKM dan pengusaha mikro. Membeli produk milik UMKM melalui e-commerce dapat membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menjaga keberlangsungan ekonomi sekaligus menjaga jarak di tengah pandemi. “Pelaku usaha dan UMKM yang terhubung dengan platform online dapat bertahan bahkan tumbuh di tengah pandemi,” ujar Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki, pada #BANGUNRESOLUSI Talks bertajuk ‘Digitalisasi Keuangan dalam Meningkatkan Perekonomian’, yang diadakan secara daring pada awal Desember lalu.

Meskipun peminat belanja e-commerce naik secara tajam selama pandemi, e-commerce Indonesia ternyata sudah berkembang pesat bahkan unggul di kawasan Asia Tenggara sebelum Covid-19 mewabah serta menjadi salah satu pendorong utama ekonomi nasional. Nilai Gross Market Value (GMV) dari e-commerce di Indonesia mencapai USD21 miliar di tahun 2019 dan diprediksi meningkat hingga USD40 miliar pada tahun 2022. Berlanjut hingga saat pandemi berlangsung, Bank DBS Indonesia menilai pentingnya peran e-commerce selama wabah dan mengharapkan kontribusinya terus berkembang pasca-corona.

Dalam mendukung berkembangnya e-commerce di Indonesia, pemerintah melakukan penguatan jaringan internet di seluruh pelosok Tanah Air. Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional, Bambang Brodjonegoro pada pertemuan tahunan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) Ministerial Meeting 2019, menyatakan bahwa pemerintah Indonesia terus meningkatkan pelayanan teknologi komunikasi dan informasi bagi pengguna internet di Indonesia. Hal ini dilakukan oleh pemerintah guna meningkatkan produktivitas ekonomi dan membuka kesempatan lapangan kerja baru.

 



Sekjen Kominfo Mira Tayyiba: Ada Dua Fokus Transformasi Digital

MAJALAH ICT – Jakarta. Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Informatika, Mira Tayyiba mengatakan pembangunan infrastruktur untuk transformasi digital diarahkan untuk  mendorong inklusivitas dan empowering seluruh masyarakat Indonesia.

“Bagaimana Kominfo menterjemahkan arahan Bapak Presiden, Beliau selalu mengatakan no one left behind, sehingga dua hal yang menjadi nafas dari transformasi digital adalah inklusivitas dan empowering,” tegasnya  dalam sesi tanya jawab Konferensi Pers Virtual Implementasi Akselerasi Transformasi Digital dari Ruang Serbaguna Kementerian Kominfo, Jakarta.

Oleh karena itu, menurut Sekjen Mira, konsentrasi pembangunan infrastruktur merupakan upaya untuk memanfaatkan secara optimal kehadiran teknologi digital.

“Mengapa kami sangat konsentrasi di infrastruktur? Kita mengenal istilah digital paradoks, di satu sisi digital bisa membawa keuntungan bagi yang bisa memanfaatkan tapi juga bisa menimbulkan kerugian bagi yang tidak bisa memanfaatkan tidak bisa memanfaatkan itu bisa karena tidak ada akses atau tidak memiliki kemampuan literasi nya atau affordability,” jelasnya.

Menurut Sekjen Kementerian Kominfo, pemerintah berupaya mempercepat pembangunan infrastruktur digital agar memungkinkan terjadinya inovasi dan transformasi.

“Sebagaimana yang disampaikan bapak menteri sebelumnya kita memajukan 10 tahun bangunan infrastruktur dipercepat 10 tahun dengan harapan setelah dilakukan konektivitas ke seluruh Indonesia sehingga memungkinkan untuk terjadinya inovasi dan kemudian bertransformasi,” jelasnya menegaskan gambaran besar bagi transformasi digital Indonesia.

 



Telkom Gunakan Teknologi AI Super Komputer NVIDIA DGX A100 yang Pertama di Indonesia

MAJALAH ICT – Jakarta. Dalam rangka mewujudkan visi perusahaan untuk menjadi perusahaan telekomunikasi digital pilihan utama yang dapat memajukan masyarakat, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) terus mengekplorasi pengembangan bisnis digital khususnya teknologi-teknologi masa depan yang diprediksi dalam 3 hingga 5 tahun mendatang (Horizon 2 & 3) akan menjadi teknologi mainstream. Salah satunya adalah riset teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk area AI Voice, AI Image/Video, dan AI Text/NLP. Teknologi AI diprediksi akan menjadi bisnis yang sangat besar di masa depan, di mana teknologi AI dan analytic juga akan menjadi salah satu pendorong pertumbuhan industri 4.0.

Sepanjang tahun 2020, Telkom mengembangkan Laboratorium ATR (Advanced Technology Research) yang akan meliputi Lab AI, Lab Robotic, Lab RPA (Robotic Programming Automation), Lab Blockchain, Lab AR (Augmented Reality)/VR (Virtual Reality), Lab Biosignal, dan teknologi terdepan lainnya. Saat ini, Lab ATR milik Telkom telah dilengkapi dengan NVIDIA DGX A100 yaitu perangkat super komputer yang canggih dan khusus dirancang untuk menangani workload AI, yang akan digunakan untuk mendukung riset di Lab AI agar lebih cepat dalam pemrosesan data training dan pemodelan algoritma AI. Telkom menjadi pengguna AI super komputer tercanggih (NVIDIA DGX A100) yang pertama di Indonesia. Diharapkan perangkat ini dapat mengakselerasi pengembangan solusi berdasarkan use case di Lab AI supaya lebih optimal dan lebih cepat dalam menghasilkan produk berbasis AI.

Direktur Digital Business telkom, M. Fajrin Rasyid, menyampaikan, “Menjadi pengguna AI super komputer tercanggih (NVIDIA DGX A100) yang pertama di Indonesia, merupakan wujud komitmen kami dalam mengembangkan bisnis digital ke depannya. Dengan kemampuan NVIDIA DGX A100 yang merupakan platform untuk AI dengan performance terbaik di dunia saat ini, diharapkan riset dan use case yang dikembangkan di Laboratorium Inovasi Digital yang berfokus pada eksplorasi perkembangan bisnis digital khususnya untuk teknologi masa depan, akan lebih optimal dan lebih cepat dalam menghasilkan produk berbasis AI di Telkom serta mampu mengakselerasi perkembangan talenta digital di Indonesia.”

Fajrin menambahkan, Telkom juga ingin berkontribusi kepada masyarakat sebagai technology hub yang memberikan layanan inkubator untuk perusahaan startup dan berkolaborasi dalam hal riset AI dengan berbagai universitas, bisnis, komunitas, pemerintahan, dan media. “Hingga saat ini, Telkom secara aktif turut serta dalam riset di bidang kesehatan terutama dengan menggunakan teknologi AI, seperti deteksi dini penyakit mata berdasarkan medical image dari mata,” ungkapnya.

Dalam rangka bertransformasi menjadi perusahaan telekomunikasi digital, Telkom fokus kepada tiga domain bisnis digital yakni digital connectivity, digital platform, dan digital services. AI merupakan salah satu bagian dari digital platform di mana Telkom akan terus mengakselerasi domain ini dengan menyediakan smart platform di atasnya sebagai enabler berbagai layanan dan solusi ICT. “Kehadiran Lab ATR dengan perangkat komputer super canggih NVIDIA DGX A100 diharapkan dapat mendukung pengembangan riset AI sehingga dapat menghasilkan use case yang bermanfaat dan meningkatkan daya saing Indonesia melalui inovasi-inovasi yang diciptakan, tidak hanya bagi Telkom tapi BUMN dan instansi lain. Ke depannya implementasi AI diharapkan dapat mentransformasi masyarakat Indonesia menjadi lebih kompetitif melalui perubahan-perubahan yang terjadi di ruang lingkup sosial dan bisnis yang akan meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia di mata internasional,” tutup Fajrin.