MAJALAH ICT – Jakarta. Fitch Ratings malporkan bahwa belanja modal perusahaan telekomunikasi di Indonesia akan meningkat pada 2018, karena para operator akan mengakselerasi ekspansi seiring ketersediaan spektrum yang banyak. Menurut Fitch, dua perusahaan PT Hutchison 3 Indonesia (3) dan pemimpin pasar PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), begitu membutuhkan tambahan frekuensi. 3 disebutnya memiliki spektrum terkecil yang berada di antara empat perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia.
Disampaikannya juga, setelah pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informasi mengumumkan rincian lelang untuk spektrum 2100MHz dan 2300MHz, akan ada penawaran agresif karena setiap peserta lelang hanya bisa memenangkan satu blok dari masing-masing frekuensi. Harga reservasi untuk setiap 5MHz dari 2100MHz ditetapkan Rp.297 miliar dan 30MHz dari 2300MHz senilai Rp.367 miliar. Proses lelang disebutkan berbeda dengan prosedur lelang 2013, ketika regulator (Kementerian Kominfo) menjalankan tender komparatif berdasarkan kriteria tertentu.
Telkomsel masih melayani pasar 2G yang besar dan akan membutuhkan spektrum tambahan untuk memenuhi basis pelanggan 4G yang terus bertumbuh; sekitar setengah dari pelanggan mobile-nya masih berada di jaringan 2G. Kapasitas spektrum tambahan juga akan mendukung strategi perluasan jaringan perusahaan telekomunikasi terbesar kedua PT Indosat Tbk dan telekomunikasi terbesar ketiga PT XL Axiata Tbk.
XL telah mengindikasikan rencana menaikkan belanja modal dari saat ini Rp.7 triliun per tahun untuk mengakselerasi jaringan di Jawa, yang didominasi Telkomsel. Kolaborasi jaringan bersama antara XL dan Indosat terkendala regulasi. Sebaliknya, kedua perusahaan memilih untuk secara bertahap meluncurkan jaringan individual mereka di luar Jawa. Terlepas dari kenaikan capex, Fitch memperkirakan XL dan Indosat menyeimbangkan kebutuhan belanja modal untuk menjaga kekuatan neraca mereka.
No comments:
Post a Comment