Thursday, 3 June 2021

Penerapan Teknologi Data Analitik di Balik Masker Kesehatan

MAJALAH ICT – Jakarta. Dengan kebutuhan untuk memakai masker atau beberapa bentuk pelindung wajah yang merupakan bagian dari cara hidup normal di berbagai negara di seluruh dunia sejak awal tahun 2020, kita mungkin dapat mengingatkan diri kita sendiri bahwa inti dari produk teknologi kesehatan ini pada dasarnya adalah inovasi non-digital. Terlepas dari beberapa prototipe ‘masker pintar’ bersamaan dengan aplikasi smartphone yang tepat, sebagian besar penutup wajah sebenarnya hanyalah terdiri dari sepotong bahan dan beberapa tali elastis.

Tentu saja, bahkan sebelum pandemi, banyak orang telah terbiasa memakai beberapa bentuk masker wajah, helm, penutup rambut atau penutup kepala pelindung (protective headgear). Dari atas ke bawah, banyak pekerja yang juga terbiasa mengenakan alat pelindung, jaket, sarung tangan, dan bahkan pelindung tubuh, tergantung pada profesinya.

Namun secara sederhana, kita sekarang jauh lebih peduli dikarenakan adanya kepatuhan dan kebutuhan untuk memakai pelindung ini dibandingkan sebelumnya. Oleh karena itu, dapatkah teknologi menjadi jalan yang tepat untuk memastikan kita sudah mengencangkan sabuk pengaman serta menjaga keamanan orang di sekitar?

Melebihi RFID, menjadi kecerdasan gambar

Di masa lalu, kita mungkin telah mempertimbangkan penggunaan tag RFID sebagai solusi yang bisa diterapkan untuk memantau apakah ada peralatan pelindung yang dikenakan oleh seseorang. Tetapi sepintar dan bergunanya RFID, teknologi ini memiliki batasan dan pengaplikasian tertentu. Beberapa peralatan pelindung pribadi terlalu mudah dibuang untuk mempertimbangkan penandaan dan – mungkin yang terpenting dari semuanya – bahkan ketika sinyal RFID yang terang dan berkilau dilacak secara tepat, hal tersebut tidak dapat memberi tahu apakah seseorang mengenakan penutup pelindung dengan cara yang benar.

Walaupun terdengar aneh, tentu sangat mungkin untuk memakai jaket pelindung secara tidak benar, entah resletingnya yang terbuka, atau mungkin tanpa pelampung luar jika kondisinya sedang di laut. Seorang pekerja di lokasi konstruksi yang membawa helm proyek di pinggang mungkin memegangnya dengan baik, tetapi mereka tidak memakainya dengan benar. Maka seperti yang kita semua tahu, masker anti-COVID yang dikenakan di dagu dengan mulut dan hidung terbuka tentu saja tidak pernah benar.

Jadi apa yang bisa kita lakukan?

Percobaan dan pembuatan prototipe sudah ditempatkan untuk menggunakan perangkat lunak berupa pelacakan gambar dalam menangkap perilaku pengguna dan memberikan wawasan yang dibutuhkan tentang bagaimana peralatan pelindung dikenakan di tempat kerja, dan juga saat bermain.

Dinamika manusia-ke-digital

Sekarang sudah ada beberapa referensi yang sangat baik serta uji coba menarik yang sedang berlangsung untuk menjelaskan mekanisme dinamika manusia-ke-digital dan pintu gerbang yang dibuka untuk implementasi kecerdasan buatan (AI) dan analitik data yang terintegrasi.

Bidang industri transportasi telah mencoba secara teknologi dan fisik tentang seberapa mungkin melacak penggunaan penutup wajah dalam periode pemulihan pasca pandemi ini. Dianonimkan secara layak, mereka telah memeriksa opsi untuk membuat peta panas (heatmap) penumpang sehingga dapat melacak di mana area yang padat. Lebih jauh ke dalam analisis, mereka bahkan dapat menggunakan teknologi yang dapat melacak apakah pengguna memakai masker wajah dan apakah mereka memakainya dengan benar.

Berfokus pada orang, bukan informasi pribadi, sistem ini dapat membangun kumpulan data hasil yang rinci tentang bagaimana, kapan, di mana dan apa yang dilakukan penumpang di dalam stasiun kereta, kapal pesiar atau terminal bandara, misalnya. Perangkat lunak berupa pelacakan gambar kemudian dapat dibangun untuk menghasilkan algoritma yang dapat dilatih untuk memahami perbedaan antara jenggot dan masker, perbedaan antara masker dan syal, dan perbedaan antara apakah masker dipakai dengan benar atau salah.

Proses ini melibatkan pengambilan streaming video langsung secara real time dan mampu menerapkan kecerdasan buatan (AI) untuk terus melatih dan meningkatkan algoritma. Tujuannya adalah untuk memperoleh aliran data dari berbagai pilihan kamera yang ada di plafon, dinding, serta ruang publik yang sedang beroperasi. Tim IT kemudian dapat menerapkan model statistik terlatih yang menggunakan penggunaan algoritma kecerdasan buatan khusus yang dibuat untuk menganalisis data yang telah diserap dan mengklasifikasikan orang menjadi pemakai masker, tidak memakai masker, serta pemakai masker yang tidak benar.

Data: menghubungkan, bertukar, mengintegrasikan, menganalisis

Untuk membuat semua kecerdasan tingkat pengguna ini berfungsi, ada beberapa mekanisme cerdas yang bergerak di belakang layar. Pengaktif teknologi di sini adalah berupa perangkat lunak dan platform data yang dapat menangani analitik data, streaming, dan integrasi. Untuk bertukar informasi yang rinci tentang kapan dan di mana orang mengenakan peralatan pelindung, platform data harus dapat memperoleh, mencerna, dan mengintegrasikan data dari berbagai sumber yang berbeda.

Secara bersamaan, platform data juga harus dapat berkomunikasi ke luar dan melaporkan kepada orang-orang sekitar (atau mendukung staf yang bekerja di lingkungan yang dilintasi atau ditempati) untuk memberitahu jika mereka melanggar peraturan kepatuhan. Hal ini menandakan bahwa platform juga harus memiliki beragam sumber pada hasil akhirnya.

Ada juga fungsi Master Data Management di sini (yaitu kita perlu mengetahui tentang semua kasus penggunaan dan semua jenis peralatan pelindung dalam berbagai bentuk dan ukuran yang disertakan). Melihat lebih dalam lagi, teknologi Application Programming Interface (API) dapat digunakan untuk bertukar data ke layanan berbasis cloud eksternal. Keseluruhan proposisi teknologi ini merupakan salah satu kecerdasan data, integrasi, dan analitik.

Contoh-contoh ini sudah melampaui sistem pelacakan penumpang bandara dan pemakaian masker wajah antivirus. Mari kita pikirkan juga tentang lingkungan kerja yang mengutamakan keselamatan, seperti lokasi bangunan konstruksi, pengeboran minyak dan gas, fasilitas utilitas, dan lingkungan teknik sipil besar lainnya, di mana mengenakan beberapa bentuk alat pelindung diri profesional merupakan suatu kewajiban. Jika kita dapat membangun sistem cerdas yang memperingatkan pengawas (supervisor) tentang berbagai bentuk pelanggaran kepatuhan, maka kita akan meminimalisir jumlah cedera. Pada akhirnya, lebih sedikit cedera berpotensi adanya premi asuransi yang lebih rendah, tenaga kerja yang lebih produktif, dan model bisnis yang lebih menguntungkan.

Aliran Analitik: data historis & data real time

Menyatukan semua urutan cerita dan konsep secara bersamaan, organisasi, badan pemerintah, dan otoritas publik serta swasta lainnya dapat melihat teknik ini sebagai cara untuk membuat hidup kita lebih aman. Papan pedoman instrumen analitik juga dapat digunakan untuk memvisualisasikan statistik historis penting dan membandingkan catatan tersebut dengan informasi real time.

Kekuatan sebenarnya terletak pada kemampuan untuk melacak data real time terhadap data historis di mana kita memiliki metrik yang dapat digunakan sebagai batas atas, ambang batas, serta tingkat kinerja yang perlu kita capai agar operasi yang aman dapat dijamin.

Dengan melacak data langsung terhadap titik waktu tertentu di masa lalu, kita dapat memantau proses, apakah kita melacak adopsi masker wajah, helm proyek di kepala, atau lingkungan lain di mana kita ingin mendapatkan tampilan terperinci tentang bagaimana dunia sedang beroperasi. Hal ini bukanlah cerita di mana kakak paling besar mengawasi kita, melainkan bagaimana Ibu menjaga kita. Kita dapat membuat dunia menjadi tempat yang lebih aman di masa depan dan data akan menjadi dasar untuk setiap inovasi di hari esok dan di masa yang akan datang.

Ditulis Alessandro Chimera, Director of Digitalization Strategy, TIBCO Software Inc.

 



No comments:

Post a Comment