MAJALAH ICT – Jakarta. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) menetapkan PT PT Industri Telekomunikasi Indonesia (PT INTI) sebagai pemenang lelang pengadaan barang untuk sensor internet. Disampaikan Dirjen Aplikasi Informatika Kemkominfo, Semuel A. Pangerapan, mesin sensor internet mereka tidak memakai sistem deep packet inspection, melainkan memakai sistem crawling.
“Sistem ini bukan sistem yang digosipkan di luar ada DPI. Kita tidak membeli sistem DPI. Sistem crawling adalah sistem yang tadinya orang secara manual membuka website satu-satu, sekarang dilakukan otomatis karena ada bot dan AI yang dipasang. Mesin akan crawling, menganalisis konten-konten negatif tersebut,” kata pria yang biasa dipanggil Semmy dalam konferensi pers di Kementerian Kominfo siang ini.
Mengenai terpilihnya INTI, hal itu setelah dilakukan proses lelang dan hanya INTI yang berhak dinilai penawaran harganya. Prosesnya sendiri dikatakan sebagai prakualifikasi. “Kita turnkey, jadi INTI dibayar atas semua yang dibutuhkan dan harus disediakan. INTI mau ambil barang dari manapun terserah,” kata Semmy lagi. INTI dinyatakan sebagai pemenang lelang pengadaan mesin sensor Internet dengan harga penawaran Rp.198 miliar dan harga koreksi Rp.194 miliar. Lelang pengadaan mesin sensor internet ini dibuka pertama kali pada 30 Agustus 2017 lalu.
Ditambahkannya, tujuan diadakannya mesin sensor Internet ini adalah untuk menyaring Internet Indonesia dari konten-konten bermuatan negatif, seperti pornografi, terorisme, separatisme, kekerasan terhadap anak, dan konten lainnya yang melanggar undang-undang ITE.
Kementerian Kominfo menargetkan mesin ini bisa mulai berjalan pada Januari 2018 nanti. Meski, dalam prakteknya, Kementerian Kominfo tetap berharap partisipasi masyarakat untuk mengadukan konten negatif walaupun mesin ini sudah tersedia.
No comments:
Post a Comment